Perang Dunia II : Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki

27 Mei

Nagasaki2

Agustus 1945 saat perang dunia kedua berkecambuk, dan Indonesia masih dalam proses kemerdekaannya. Sekutu berencana menjatuhkan nuklir di Hiroshima.

Pagi yang cerah di Hiroshima, ketika saat itu, Hiroshi yang baru berusia 18 tahun diangkat menjadi kepala keamanan di kotanya, Hiroshima. Tak ada yang menyangka, hal itu akan menjadi momen paling berat yang pernah ditanggung oleh pemuda Hiroshi.

Ibu Hiroshi sudah meninggal karena ditembak sekutu 12 tahun lalu, sedangkan ayahnya sedang ikut membantu Jepang menjajah Indonesia.

Hiroshi awalnya depresi berat karena ditinggal mati ibunya. Tapi ayahnya dengan semangat membantunya agar bisa lepas dari kesedihan yang membelenggunya. Tanggal 2 Agustus 1945, pagi-pagi benar sang pemuda Hiroshi siap2 berangkat ke kuil Shinto.

Ketika berjalan menuju kuil Shinto ia bertemu seorang tua yang ternyata mantan samurai dari klan Ichiburi bernama Ichiburi Sato. Kemudian mereka berbincang-bincang, dan Hiroshi pun diberi pencerahan tentang perang yang dianggap suci ini.

“Kau tahu Amaterasu O mikami, Hiroshi-san ?” tanya Ichiburi Sato disuatu pagi.

“Istri teman ayahku” jawab Hiroshi.

“Bukan yang itu, Amaterasu o mikami adalah dewi matahari. Dewi dalam aliran Shinto Jepang. Karena itu, Jepanglah yang berhak menerangi dunia !! Perang ini adalah manifestasi. Walau pun .. aku tak sependapat.” ujarnya lagi.

“Ara… gomen-ne Ichiburi-san. suman..suman..” sahut Hiroshi-san sambil tertawa, “maafkan saya…. Namun sebagai seorang pendeta mantan samurai di kuil Shinto ini, mengapa anda tidak setuju ?”.

Ichiburi-san menurunkan tongkat meditasi yang tadi akan digunakannya untuk menggetok batok kepala bebal Hiroshi. Dia mendengus kesal “..tagu…!!!”.

“Kau tahu Hiroshi-san..” tukas Ichiburi-san “Mengakui ajaran amaterasu-sama’ sebagai penguasa matahari yang menguasai bumi, namun mengambil alih wewenang-nya dalam melakukan penguasaan bumi, apa itu bukan suatu pelecehan kepada amaterasu-sama’ ?”.

“Kemudian melakukan penerangan kepada seluruh dunia dengan melakukan pembunuhan dalam perang atas namaNYA, Apakah itu bukan suatu bentuk kekurangajaran pada amaterasu-sama’ sendiri ?” cerocos Ichiburi-san jengkel.

“Sungguh aku tak habis pikir, bagaimana mungkin jepang pasca Bakufu dan restorasi Meiji bisa dipegang oleh kaum pandir yang haus darah penaklukan. Mereka lebih layak disebut sebagai Oni dan Yasa’ ..”.

“Dan kau tahu, Hiroshi-san…. semalam aku bermimpi.. Amaterasu-sama marah dan menghukum negeri ini… Beliau menjatuhkan dua buah matahari kecil… kepada Hiroshima dan Nagasaki….” kata Ichiburi-san pelan.

“So.. na…?” sahut Hiroshi-san. “Itu pertanda buruk,… Ne, Ichiburi-san…”.

“Hai.. so-desu… Hiroshi-san… Aku rasa, sebaiknya engkau menyingkir sejauh-jauhnya dari Hiroshima segera…. Akupun akan berangkat siang ini…” jawab Ichiburi-san sambil berbalik badan masuk kuil. “Dozo.. Hiroshi-san”.

“Sayonara… Ichiburi-san…” balas Hiroshi sambil berbalik badan dan pulang.

Hiroshi berjalan sambil merenugkan ucapan dari Ichiburi-san. Cerita mengenai hukuman dari Amateru-sama benar-benar mengusiknya. Jika hukaman itu benar adanya, maka dialah orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan warga kota.

“Neee.. Hiroshiii…” terdengar teriakan seorang wanita memanggil namanya. Hiroshi berhenti dan menoleh. Cahaya matahari pagi membuatnya silau. Namun ia telah hafal dengan sosoknya yang dikenalnya itu, Sayaka-san, seorang Geisha terpopuler dikotanya.

“Ahh… Ohayo… Sayaka-san…” sapa Hiroshi sambil tangannya menghalau cahaya mentari agar bisa melihat sosok Sayaka lebih jelas. “Ohayo..” Jawab Sayaka sambil berjalan menuju Hiroshi.

“Pagi sekali kau, Hiroshi. Dari kuil kah ?” tanya Sayaka sambil mendekat. Wajah ayunya yang tanpa make up terlihat bersinar di pagi hari ini.

“Oh ya… Omedetto… pasti berat yah menjadi kepala keamanan?” Sayaka menyelamati Hiroshi. “Ha.. domo..” angguk Hiroshi. “Sayaka-san juga akan ke kuil kah?” Hiroshi coba memulai percakapan.

“Ie’, Hiroshi…” sahutnya sambil menggeleng. “Ne.. Hiroshi.. kau tak pernah mengunjungi ku lagi di Okiya …” tanyanya perlahan. Pipi nya yang putih bersih mulai merona merah, tanda sang empunya sedang merasa malu.

“Gomene… akhir-akhir ini banyak sekali yang terjadi… sehingga… aku belum sempat ke Okiya.. nanti, aku akan datang ke Okiya..” jawab Hiroshi tegas. Sayaka hanya tersenyum “Ne.. ne.. tidak perlu seperti itu. Aku selalu bersedia membantumu kok…”.

Dengan riang, Sayaka mensejajarkan langkahnya dengan Hiroshi. “Anooo… Hiroshi. Atarashi no Yume…. Aku bermimpi aneh semalam. Dua matahari jatuh membakar bumi. Dan Hiroshima menjadi lautan api. Mengerikan sekali. Kau tahu maknanya ?”.

Hiroshi terdiam sejenak. “Hendayone… Ichiburi-san tadi juga bercerita seperti itu. Mendengar ceritanya, hatiku menjadi tidak nyaman…” Suara Hiroshi yang berat membuat suasana pagi itu menjadi gloom. “Semoga saja bukan hal buruk..”.

“Honto-ne ?” tanya Sayaka setengah terkejut. “Ichiburi-san bermimpi seperti itu juga ? …Omoshiroi….”.

mereka lalu berjalan dalam diam.

Mereka berdua sedang berjalan ketika ada pesawat sekutu melintas diatas mereka.

“Hiro-nii!! Hiro-nii!! Kamu dipanggil oyaji di pos…” Seru seorang anak kecil berlari tergopoh-gopoh kearah Hiroshi.

Ketika Hiroshi sampai di Pos, ia terkejut ternyata ayahnya mati ditembak sekutu. Hiroshi seakan tak percaya akan hal itu, Hiroshi kini tinggal sebatang kara. Sementara itu di markas sekutu tepatnya di Amerika.

“Kamu sudah dengar kan? keputusan dari Presiden Truman?”. “Ya.. katanya senjata itu senjata yang belum pernah ada.” Pangkalan sekutu di pasifik barat meningkat intensitasnya ketika Henry S Truman mengumumkan akan meluluhlantakkan 4 kota di Jepang.

“Kenapa harus 4 bukankah 2 saja sudah cukup ?”.

“Presiden Truman sepertinya ingin mengoyak Jepang seperti saat Jepang mengoyak Perl Harbour”. “Kemungkinan juga itu hasil nasihat intelijen presiden”. Saat crew hanggar sedang mengobrol, mereka didekati seseorang. “Kapan Little Boy datang?”.

“Mungkin beberapa hari lagi”, jawabnya. “Lalu bagaimana dengan Fat Man ?”.

“Kemungkinan Fat Man akan di jatuhkan di kota Nagasaki, Namun tidak tertutup kemungkinan bom ini kita jatuhkan di kota Kyoto”.

“Tetapi bukankah Fat Man lebih bagus jika bisa menghancurkan Nagasaki.

Obrolan crew hangar itu makin hangat, seperti halnya pangkalan itu yang sedang bersiap untuk kedatangan sebuah bom super.

3 Agustus 1945, para crew sekutu di Amerika semakin tidak sabar dengan kemenangan yang tinggal sedikit lagi. Lalu…

pada saat yang sama, di Kota Hiroshima. Hiroshi mencoba untuk menjalani tugasnya seperti biasa, walau hatinya masih terluka mendengar kabar ayahnya gugur di Asia Tenggara.

Sedangkan Ichiburi Sato masih memikirkan…

tentang mimpi buruk hukuman dari Amateru-sama atas kota Hiroshima dan Nagasaki. Ichiburi Sato merasakan kalau hukuman itu akan terjadi dalam waktu dekat.

Lalu, Hiroshi akhirnya berusaha melepaskan kesedihannya itu.

Sekitar tengah malam Paul Tibbets terbangun dengan nafas terputus karena bermimpi tentang neraka, di sebuah negara yang jauh. Mimpinya itu terlihat sangat nyata.

Dia bermimpi kalau ia berada di sebuah kota yang akan meledak dan hacur seketika kemudian rata dengan tanah.

Bangunan menjadi debu, jasad manusia menguap. Kengerian yang sukar untuk dibayangkan. Rasa tangis yang tidak bisa keluar karena begitu mengerikannya.

Seakan ia tak bisa membayangkannya. Ia terus memikirkan itu sampai ia tertidur.

Tanggal 5 Agustus pagi. Di pangkalan. Bom MK yang bernama Little Boy itu sudah sampai di pangkalan. Presiden Truman bersikeras untuk mengantar bom itu dalam waktu dekat.

Malam itu pun akhirnya Little Boy sampai di markas. Paul Tibbets pun langsung diperintahkan untuk menerbangkan pesawat Enola Gay menuju Nagasaki. Sementara, di Hiroshima, Ichiburi-Sato masih memikirkan mimpinya, dia semakin deg-deg kan akan hal itu.

“Konbanwa.. Ichiburi-san..” Sapaan Hiroshi menyentakkan renungan Ichiburi Sato. “Ah.. Hiroshi-san.. mari-mari sini.. kamu ada perlu apa?” Ichiburi Sato mempersilahkan Hiroshi untuk masuk. Wajah tegang Ichiburi Sato ternyata mempengaruhi Hiroshi juga.

“Aku masih tidak mengerti apa maksud mimpi yang kau ceritakan itu ?” tanya Hiroshi.

Seketika wajah Ichiburi berubah pucat.

“Aku pun juga sukar untuk menjelaskan… Hanya saja.. hatiku selalu terasa galau kalau mengingat mimpi itu. Serasa Amateru-sama begitu dekatnya” Ichiburi-san menjawab dengan mata tertutup.

“Setiap hari aku merasakan kalau kiamat itu semakin dekat”.

“Aah.. Sayaka-san juga pernah bercerita.. dia juga pernah mimpi yang sama seperti yang Ichiburi-san ceritakan sebelumnya..” Hiroshi mencoba mengingat cerita Sayaka. “Hontoni?!” Ichiburi terkejut sambil membelalakkan matanya. “H-Ha..” Angguk Hiroshi.

“Tetapi…” Ichiburi-San melanjutkan pembicaraannya.

“Ah.. ya.. Ichiburi-san.. Saya mau ijin untuk mengantarkan Sayaka-san ke Hatsukaichi, selatan Hiroshima..” “Kenapa kamu berkata padaku?” Tanya Ichiburi-san memotong kalimat Hiroshi. Hiroshi kaget sejenak, kenapa dia harus pamitan dengan Ichiburi-san.

“Hmm” Hiroshi tambah bingung.

“Aku.. hanya merasa harus berpamitan dengan Ichiburi-san..” Jawab Hiroshi canggung. Ichiburi-san lalu tertawa lepas. “Ada keperluan apa kamu kesana?”. “Ada keluarga Sayaka-san yang ingin dijenguknya. Kabarnya, keluarga itu jg dikirim ke medan perang.

“Kalau begitu, pergilah !”.

“Besok pagi sekali kami berangkat. Terima kasih Ichiburi-san” Hiroshi membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapan Ichiburi-san. Pertemuan dengan Hiroshi tadi menambah getir hati Ichiburi-san. “Hukuman itu.. sudah sangat dekat…” gumamnnya.

Sementara itu di klan sekutu di sendiri…

Paul Tibbets baru saja keluar dari ruang briefing beserta regu yang lain. Dia mendapat tugas untuk mengantar Little Boy. Bom Atom yang konon sangat dahsyat ledakannya seperti uji coba Trinity di New Mexico.

Hari itu Paul Tibbets bersama dengan krunya sibuk mempersiapkan diri untuk penerbangan menuju Hiroshima.

Pangkalan Tinian pun menjadi sangat sibuk untuk mempersiapkan penyerangan besok ke Hiroshima. Sebegitu sibuknya hingga sampai larut malampun mereka masih juga berada di landasan. Tidak sedikit yang minum bir agar tidak terlalu tegang dalam bekerja.

Keesokan harinya Paul Tibbets sibuk mempersiapkan stategi untuk penyerangan langsung ke Hiroshima.

Di pagi buta 6 Agustus, dari pangkalan Tinian, berangkat enam buah pesawat untuk melaksakan misi khusus pengeboman Hiroshima.

Ketika pesawat-pesawat itu berada di atas Hiroshima……

Sekitar 9800 meter diatas kota Hiroshima. Saat itu langit Hiroshima sangat jelas. sekitar pukul 08 pagi. Paul Tibbets memerintah untuk menjatuhkan Little Boy.

Saat-saat yang paling mendebarkan adalah ketika dia memasang bom dengan benar, jika ada satu kesalahan saja itu bisa menjadi malapetaka. Akhirnya “3……..2……….1” Little Boy pun dijatuhkan ke Hiroshima dan…….DHUAAAAAAAAAAAAAAAR.

Hiroshima pun akhirnya rata dengan tanah..

Tidak puas dengan penghancuran di Hiroshima itu, sekutu berniat untuk meledakkan Fat Man di..

Kokura atau Nagasaki apabila Jepang masih juga belum menyerah setelah pernyataan presiden Truman pada tanggal 7 Agustus.

Paul Tibbets melihat kepulan asap berwarna merah dibelakang pesawatnya lalu berkata” God Bless You” sambil menitikan air mata.

Pangkalan Tinian kembali sibuk untuk mengirimkan Fat Man ke kota selanjutnya di Jepang.

Sementara itu, Paul Tibbets sadar kalau kejadian ini mirip dengan mimpinya.

Tapi Paul Tibbets hanya menjalankan tugas. Dia tidak bisa membantah jika Presiden Truman ingin menjatuhkan bom seperti lagi di Jepang.

Akhirnya Paul Tibbets pun sampai di landasan.

kepulangan Paul Tibbets disambut sorak sorai karena berhasil mengatarkan senjata maha dahsyat itu ke lawan perang mereka.

“Sebentar lagi kita akan merebut kejayaan mereka !” kata salah seorang kru Paul Tibbets.

Pemerintah Amerika, setelah melihat keberhasilan di Horishima, segera bergegas untuk meneruskan rencana memborbardir Jepang.

Keesokan harinya.

Tanggal 8 Agustus, Fat Man sudah siap berada di pangkalan Tinian. Kali ini Charles Sweeney mendapat tugas untuk mengantar Fat Man ke target selanjutnya dengan pesawat Bockstar.

Charles Sweeney sudah siap untuk penyerangannya bersama dengan kru-kru lainnya menuju Kokura.

Tanggal 9 Agustus, pukul 09 pagi, waktu Jepang, ternyata Kokura tertutupi oleh awan. Charles Sweeney tidak bisa melihat target yang berada diatas tanah. Padahal Fat Man yang diangkutnya harus di jatuhkan pada hari itu juga.

Akhirnya ia memutuskan untuk membelokkan sasaran.

Primary target di gugurkan, dan Charles Sweeney mengubah sasaran ke Nagasaki setelah konsultasi dengan pangkalan. Pukul 11 siang, Nagasaki sangat cerah saat itu.

Malangnya penduduk Nagasaki, mereka tidak mengira kalau itu adalah hari kehancuran.

Di siang yang cerah itu, Pesawat Bockstar memuntahkan muatannya. Tidak ada sasaran pasti, hanya cukup di jatuhkan di kota Nagasaki. Charles Sweeney langsung mengubah haluan untuk menghindari shockwave yang akan terjadi.

Bommmm seketika itu pun kota Nagasaki rata dengan tanah seperti halnya kota Hiroshima.

Dampak ledakan di Nagasaki lebih dahsyat daripada di Hiroshima. Radius 11 km dari hiposenter Fat Man hangus dilalap bola api. Tekanan shockwave meluluh lantakkan bangunan disekitarnya. Amerika berhasil membuat sebuah neraka baru di bumi Nagasaki.

Dengan begini, sudah dipastikan kalau Jepang akan kalah dalam Perang Dunia II.

Tanggal 12 Agustus, karena Jepang masih belum menyerah juga, maka Amerika berniat untuk mengantarkan satu buah bom lagi. Tapi karena kendala teknis dalam transportasi bom selanjutnya, maka jadwal pengeboman mundur hingga tanggal 16 Agustus.

Mereka tetap berniat menjatuhkan bom itu walaupun Hiroshima dan Nagasaki telah hancur.

Karena mereka ingin menglahkan Jepang dengan telak.

Jepang atas desakan dari bebarapa pihak, termasuk karena tekanan dari masyarakat yang menderita dari pengeboman itu, memaksa Kaisar harus menyatakan menyerah pada tanggal 14 Agustus kepada Amerika Serikat.

Hari itu, Jepang menyerah tanpa syarat, awal dari kemenangan sekutu.

Kabar menyerahnya Jepang hanya tersebar di lingkungan sekutu. Di wilayah kekuasaan Jepang, kabar ini belum tersiar. Seperti di Indonesia, kabar menyerahnya Jepang di anggam hanya gurauan belaka.

Tetapi, kabar itu akhirnya menyebar ke wilayah kekuasaan Jepang, termasuk Indonesia. Para tentara Jepang pun segera kembali ke Jepang.

Pada tanggal 16 Agustus, para pemuda Indonesia dapat memastikan kabar itu dari kemampuan menyadap radio luar negri. Akhirnya beberapa pemuda menemui Soekarno dan Moh Hatta untuk mendesak kemerdekaan Indonesia.

Akhirnya, tanggal 17 Agustus, Indonesia berhasil merdeka ditamdai dengan pembacaan proklamasi.

Pasukan Jepang pun diminta untuk segera keluar dari wilayah Indonesia.

Akhirnya, pada tanggal 2 September 1945, Jepang menanda tangani surat penyerahan diatas kapal USS Missouri di teluk Tokyo

Satu Tanggapan to “Perang Dunia II : Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki”

  1. roy hanung 26 Januari 2010 pada 00:09 #

    cerita yang bagus…sayang terlalu panjang jd ag bosen bacanya…semoga jadi bahan pertimbangan thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: